Materi Bank Syariah

Materi Bank Syariah

Materi Bank Syariah

Sejarah Bank Syariah

Pada masa Rasullah secara umum bank ialah forum yang melaksanakan tiga fungsi utama yang mendapatkan simpanan uang, meminjamkan uang dan memperlihatkan jasa pengeriman uang. Dalam sejarah perekonomian umat islam pembiayaan yang dilakukan dengan janji sesuai syariah telah menjadi pecahan tradisi umat Islam semenjak zaman Rasulullah. Praktek-praktek menyerupai ini diantaranya mendapatkan penitipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan keperluan bisnis, serta melaksanakan pengiriman uang telah lazim dilakuakan semenjak zaman Rasulullah.

Secara kolektif, gagasan berdirinya Bank Islam atau Bank syariah di tingkat internasional muncul dalam konferensi negara-negara islam sedunia di Kuala Lumpur, Malaysia pada 21-27 April 1969 yang diikuti 19 negara peserta termasuk Indonesia. Konferensi tersebut memutuskan beberapa hal, diantaranya:

Tiap keuntungan haruslah tunduk pada aturan untung dan rugi apabila tidak ia termasuk riba dan riba itu sedikit atau banyak hukumnya haram. Diusulkan agara bank islam yang higienis dari sistem riba dalam jangka waktu secepat mungkin.
Sementara menunggu berdirinya bank Islam, bank yang menerapkan bunga diperbolehkan beroperasi tapi apabila benar-benar dalam keadaan darurat.

Karena secara aturan fiqih bunga dikatagorikan riba yang berarti haram, disejumlah Negara Islam dan berpenduduk lebih banyak didominasi islam mulai berfikir untuk mmendirikan forum bank alternatif non ribawi. Usaha modern pertama untuk mendirikan bank pertama tanpa bunga pertama kali dilakukan di Malaysia pada pertengahan tahun 1940-an, eksperimen lain yang dilakukan di Pakistan pada final tahun 1950-an dimana forum perkreditan tanpa bunga didirikan dipedesaan Negara tersebut. Akan tetapi, pendirian bank syariah yang paling sukses dan inovatif dimasa modern ini dilakukan di Mesir pada tahun 1963 dengan berdirinya Mitt Ghamr Local Saving Bank.

Di Indonesia, bank syariah pertama lahir pada tahun 1991 dan beroperasi secara resmi tahun 1992. Padahal, pemikiran ihwal hal ini sudah terjadi semenjak dasawarsa 1970-an. Menurut Dawam Raharjo, ketika memberi Kata Pengantar buku Bank Islam Analisa Fiqih dan Keuangan, penghalangnya ialah faktor politik yaitu bahwa pendirian bank Islam dianggap sebagai pecahan dari impian mendirikan Negara Islam.

Namun, semenjak 2000-an, sehabis terbukti keunggulan bank syariah (bank Islam) dibandingkan bank konvensional antara lain, Bank Muamalat tidak membutuhkan suntikan dana, ketika bank-bank konvensional menjerit minta Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) ratusan triliunan akhir negatif spread bank-bank syariah pun bermunculan di Indonesia.

Tujuan Bank Syariah

Adapun tujuan perbankan syariah yaitu:

Menurut Handbook of Islamic Banking, tujuan perbankan islam ialah menyediakan kemudahan keuangan dengan cara mengupayakan instrumen-instrumen keuangan yang sesuai dengan ketentuan dan norma syari’ah. Berbeda dengan bank konvensional, bank syariah tidak bertujuan untuk memaksimalkan manfaatnya sebagaimana halnya sistem perbankan berdasarkan bunga, namun tujuan bank syariah yaitu untuk memperlihatkan keuntungan sosial ekonomi bagi orang-orang muslim.

Fungsi Bank Syariah

Fungsi Bank syariah antara lain:

Penghimpun Dana
Sama halnya dengan bank konvensional, bank syariah mempunyai fungsi sebagai penghimpun dana dari masyarakat, perbedaannya yaitu apabila di bank konvensional penabung akan mendapatkan balas jasa berupa bunga sedangkan apabila di bank syariah penabung akan mendapatkan balas jasa berupa bagi hasil.

Penyalur Dana
Dana yang sudah dihimpin bank syariah dari nasabah, nantinya akan disalurkan kembali ke nasabah lain dengan sitem bagi hasil.

Memberikan Pelayanan Jasa Bank
Dalam hal ini, bank syariah berfungsi sebagai pemberi layanan jasa menyerupai jasa transfer, pemindahan bukuan, jasa tarikan tunai dan jasa perbankan lainnya.

Jenis-Jenis Bank Syariah

Berdasarkan prinsip kerjanya, bank syariah dibedakan menjadi 3 jenis yakni:

Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS), dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

  • Bank Umum Syariah

Bank Umum Syariah ialah bank syariah yang dalam aktivitas usahanya memperlihatkan jasa kemudian lintas pembayaran. Contohnya: PT. Bank Muamalat Indonesia, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank BNI Syariah dan lain sebagainya.

  • Unit Usaha Syariah

Unit Usaha Syariah ialah unit kerja dari kantor sentra Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dan unit kantor cabang yang melaksanakan aktivitas perjuangan berdasarkan prinsip syariah. Contohnya: PT. Bank Tabungan Negara (BTN), PT. Bank CIMB Niaga, PT. Bank Danamon Indonesia, dan lain sebagainya.

  • Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah ialah bank syariah yang dalam kegiatannya tidak menghimpun dana masyarakat dalam bentuk giro, sehingga tidak sanggup menerbitkan cek dan bilyet giro. Contohnya:
PT BPRS Amanah Rabbaniah, PT BPRS Buana Mitra Perwira, dan lain sebagainya.

Hingga sekarang terdapat sekitar 11 Bank Umum Syariah, 23 Unit Usaha Syariah, dan 163 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.


Sumber:

https://pendidikanmu.com/