Efektivitas Perahu Eretan

Table of Contents

Efektivitas Perahu Eretan

Efektivitas Perahu Eretan
Alat Tranportasi alternatif penyeberangan berupa perahu eretan masih diminati warga sekitar sepanjang Kali Surabaya. Pasalnya jarak jembatan ke jembatan yang cukup jauh, membuat warga  memilih menggunakan jasa perahu eretan. Selain murah, keberadaan perahu eretan bisa menghemat waktu dan tenaga. Misalnya saja warga perbatasan antara Surabaya dengan Sidoarjo yaitu yang terletak di daerah Pagesangan atau lebih dikenal dengan sebutan Tambangan Wak Sipan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Salah satu pengguna jasa penyeberangan tersebut, Bapak Zulkifli (31 Tahun), ia mengaku sangat terbantu dengan adanya perahu penyeberangan sungai. Selain jarak tempuh menjadi lebih dekat, tarif yang dipatok pun murah.
“Kalau sudah berada diatas sungai menggunakan sampan, kita bisa merasakan sensasi yang berbeda. Walau udara terasa panas, jika sudah mengapung di perahu, udara terasa sedikit lebih sejuk oleh angin, ditambah aliran sungai yang terlihat cukup jernih tanpa sampah meskipun sedikit pekat. Selain itu saya terhindar dari debu yang berterbangan oleh kendaraan yang lewat,” 
Perahu kecil berkapasitas dua puluh lima orang, berupa sampan beratap, terhubung oleh tali besi yang terikat kuat pada dermaga kayu dan bambu di dua belah sisi sungai tersebut, beroperasi dari pukul 05.00 WIB pagi hingga pukul 23.00 malam. Namun terkadang Tambangan Wak Sipan jika hari – hari tertentu seperti misalnya sewaktu ada acara Gerak Jalan Mojokerto – Surabaya, perahu eretan tersebut buka 24 jam non stop.
Tranportasi penyeberangan tersebut digagas oleh warga sekitar yang bernama Sipan, pada awalnya hanya ada satu perahu yang beroperasi. Seiring minat dari warga meningkat, warga lainnya mengikuti jejak Wak Sipan dan embuka jasa penyeberangan perahu eretan di  daerah Bandar dan Pagesangan deket Pabrik Korek Api PT. Pakabaja Surabaya. Dan hingga kini sepanjang Kali Surabaya dari arah jembatan Sepanjang hingga jembatan Rolak, setidaknya  terdapat sembilan buah perahu eretan. Dulu terdapat sepuluh buah, namun karena perahu eretan di daerah dekat jembatan Rolak di bawah jembatan Tol Surabaya – Malang banyak memakan korban. Akhirnya hingga kini perahu eretan tersebut ditutup. Hal itu diungkapkan oleh Supri (29 Tahun) salah satu joki perahu eretan Wak Sipan.
“Perahu dibuat dari dana gabungan empat sampai lima orang. Pengoperasiannya pun bergantian setiap 4 bulan sekali. selain menjadi ladang usaha, perahu ini juga dijadikan tempat tinggal oleh para joki,” ujarnya disela-sela aktivitas.
Ia mengaku penghasilan perharinya mencapai hingga Rp. 75.000,00
“Penumpang membayar tarif bervariasi, dari lima ratus perak sampai dua ribu rupiah. Bahkan penghasilan saya bisa meningkat sampai Rp. 150.000,00 kalau memasuki musim hajatan antar warga dua belah sisi sungai. Selain musim hajatan, setiap pagi dan siang kami selalu dibanjiri penumpang, terutama ibu-ibu yang mengantar anaknya sekolah.”
Bagi warga, keberadaan perahu eretan ternyata sangat membantu. Hal ini dikarenakan jarak tempuh antara rumah dengan tempat kerja mereka lebih dekat, cepat dan praktis jika menggunakan perahu eretan. Karena jika tidak, untuk menuju ke Kebraon misalnya, mereka harus memutar melewati jembatan Sepanjang atau jembatan Rolak yang jarak tempuhnya lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Seperti yang dikatakan oleh Sarinah (30 Tahun) yang bekerja di pabrik Jas Jus Kemlaten Surabaya,
“Lumayan, cuma bayar Rp 1.000, udah sampai. Daripada jalan muter, jauh.”