Efisiensi dan Rekreatif Perahu Eretan

Efisiensi dan Rekreatif Perahu Eretan

Efisiensi dan Rekreatif Perahu Eretan
Efisiensi adalah ukuran yang menunjukkan perbandingan antara seberapa besar asupan (input) dapat dikurangi dengan keluaran (output) yang telah ditetapkan. Dengan demikian semakin sedikit asupan yang dibutuhkan maka akan semakin efisien penyelenggaraan transportasi yang terjadi. Efisiensi menjadi tujuan transportasi karena adanya keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Sumber daya berupa sumber daya energi dan bahan bakar, sumber daya manusia, keuangan dan teknologi semuanya tidak-takterbatas. Dengan demikian penyelenggara harus sejauh mungkin memanfaatkan sumber daya yang sesedikit mungkin.
Perahu eretan memiliki fungsi efisiensi transportasi dimana tanpa memerlukan bahan bakar serta dapat menghemat baik waktu maupun tenaga bagi pengguna jasa perahu eretan.
Bagi yang tinggal di daerah bantaran Kali Surabaya, perahu eretan bukanlah sarana transportasi yang aneh. Akan tetapi, bagi para pendatang dan pelancong, naik eretan adalah sensasi baru. Badan kapal yang bergoyang-goyang dihalau air, semilir air, pemandangan yang membentang, dan wajah-wajah manusia yang bersahaja membuat kita merasa hidup di daerah luar Pulau Jawa, bukan di Kota Surabaya.
Perahu Eretan adalah sarana transportasi air yang menghubungkan Kota Surabaya dengan Kota Sidoarjo. Mereka berjajar namun berjarak cukup jauh di Kali Surabaya untuk menghindari persaingan antarperahu eretan. Jauhnya jarak jembatan penghubung serta letak yang strategis dermaga perahu eretan menjadikan eretan sebagai transportasi alternatif yang digemari.
Eretan berbentuk perahu kayu berbadan lebar 3 meter dengan panjang mencapai 10 meter, digerakkan dengan tenaga manusia. Satu eretan biasanya diawaki oleh dua orang. Masing-masing berada di ujung. Mereka menggerakkan dan mengendalikan perahu dengan berpegangan pada seutas tali baja yang dikaitkan dan dibentangkan menyeberangi sungai. Untuk memudahkan, tali baja tersebut dikaitkan pada perahu dengan bantuan roda besi. Tali ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan perahu dari arus sungai yang deras. Dengan pola seperti ini, satu eretan bukan saja mampu menyeberangkan penumpang manusia maupun kendaraan roda dua. Sedangkan mobil atau truk tidak bisa memakai alat tansportasi alternatif ini, karena perahu yang digunakan kecil.
Seperti yang dikemukakan oleh Peter Blau dalam teori Pertukarannya, dimana terdapat nilai pertukaran yaitu antara pemilik perahu atau joki perahu dengan penumpangnya. Hal tersebut terlihat dalam mengenakan tarif satu kali menyeberang tergolong murah, untuk kendaraan roda dua hanya dipatok Rp 1.000,00 dan Rp 500,00 untuk penumpang. Dimana penumpang mendapatkan jasa penyeberangan dan si pemilik perahu eretan mendapatkan nilai jasa yang diganti dengan uang niminal tertentu.
Dalam satu hari, Masudi bisa menyeberangkan 15 – 20 kendaraan roda dua.
 “Lumayan sih, bisa buat makan sehari-hari,”
Masudi yang mengaku sudah hampir 15 tahun menjalankan profesi sebagai penarik perahu eretan. Hal tersebut sesuai dengan teori Etika Subsitensi dimana Pemilik perahu eretan hanya mengandalkan pendapatan dari usaha jasa penyeberangan tersebut, tanpa ada kerja sampingan lainnya. Sehingga kehidupan ekonomi para pemilik perahu eretan ini tergolong serba kurang, namun jika pemilik perahu eretan ini mengembangkan usahanya. Seperti usaha milik Wak Sipan yang mau mengembangkan usahanya sehingga ia dapat menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana dan kehidupan ekonomi keluarganya lebih terngkat karena usahanya tersebut.