Penghancuran Generasi Islam

Table of Contents

Penghancuran Generasi Islam

Penghancuran Generasi Islam

Ketika dunia disibukkan oleh yang namanya cinta. Lihatlah….! penuh pernak-pernik warna-warni cinta. Setiap hari, pasti ada perbincangan tentang cinta. Setiap hari dan setiap kali kita melihat dan mendengar dari : para pelajar, mahasiswa, orang dewasa, bahkan anak SD sekalipun sudah berani bicara cinta. Cinta adalah bahasa yang seolah-olah wajib jadi santapan setiap hari.

Belum lagi diekspose oleh media-media, baik elektronik maupun cetak. Klise memang.semua bicara tentang cinta. Tidak peduli ; sinetron, film, infotainment, lawakan, audisi bintang. Semuanya sama. Hanya sebagian kecil yang mengedapankan informasi yang ilmiah dan actual. Media sebagai medium terbaik menyampaikan propaganda, tentu sudah pintar memainkan lakon ekonomi bahkan peradaban.

Media lebih cendrung kebablasan menguraikan makna sejati cinta. Kecenderungan ini tentu tak lepas adanya tujuan dan pangsa pasar yang elegan. Ya, remaja dan generasi muda. Tak lebih besar dan utama tentu mengarah pada generasi muda islam, yang memiliki peradaban yang kontradiksi dengan peradaban yang ditawarkan oleh media tersebut. Media merupakan sebuah alat penghancur institusi kereligiusan yang dimiliki seorang remaja. Media dengan bahasa formalnya, membahas tema cinta dengan absurd dan kurang baik penyampaiannya. Bahkan makna cinta dikerdilkan.

Percintaan laki-laki dengan perempuan menjadi menu utama setiap setiap penyajian dari media tersebut. Tak jarang bahkan kita membuat larut dalam angan-angan mengenai apa yang disampaikanmedia tersebut. (media lebih mengutamakan rating dan pangsa pasar daripada moral apalagi akhlak). Kita malah termotivasi untuk bertindak dan bersikap sering thulul amal, panjang angan-angan tanpa suatu realisasi.

Ini merupakan pengantar tentang prilaku pacaran dan peran media dalam mem-back up prilaku penghancuran generasi muda terkhusus generasi muda islam.

Cinta adalah sebuah fitrah yang ada sejak kita lahir. Menurut Syekh Taqiyuddin Anbhani, bahwa cinta merupakan bagian dari naluri (Gharizah an-Nau’). Setiap mnusia punya naluri itu. Persoalannya adalah sejauh mana atau bagaiman kita menyalurkan cinta itu. Apakah Islam membolehkan pacaran sebagai ekspresi cinta?

Cinta atau lebih dekatnya kasih sayang adalah bagian yang tak terpisahkan dari makhluk hidup, khususnya manusia. Rasa cinta merupakan penjelmaan dari naluri saling mencintai. Cinta kepada ayah ibu, kakak, adik, kakek, nenek, teman, dan sesame manusia adalah manifestasi dari gharizah nau’. Jadi intinya, jatuh cinta adalah sesuatu yang boleh dan bersifat fitrawi.

Cinta terhadap lawan jenis yang popular dengan pacaran adalah manifestasi cinta yang salah. Pacaran sudah mewabah sebagai penyakit hati yang mesti diperhatikan oleh umat sekarang ini. Apalagi dengan dengan hadirnya berbagai teknologi canggih semisal HP dan Internet, cerita seputar pacaran semakin asyik dan peluang berpacaran semakin terbuka. SMS dan Chating menjadi sarana efektif untuk saling komunikasi dan curhat.

                          

Artinya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Baca Juga :