Penurunan Nilai Aset Berdasar PSAK 48 & 64

Penurunan Nilai Aset Berdasar PSAK 48 & 64

Penurunan Nilai Aset Berdasar PSAK 48 & 64

 

Dalam sejarah perkembangan akuntansi, penurunan nilai merupakan metode pelengkap depresiasi yang digunakan dalam model biaya (historical cost model). Hal ini dikarenakan metode depresiasi tidak mencerminkan perubahan nilai kini dari aset (Kvaal, 2005).
Wiecek & Young (2009) menjelaskan tujuan penyajian sumber daya ekonomik di laporan posisi keuangan sebagai berikut,

An entity’s economic resources are presented on its statement of financial position as key information for users. The assumption in evaluating these assets is that they are reported on this statement as no more than the amount the entity can recover from their use or sale.


Pernyataan di atas menyebutkan bahwa nilai aset yang dilaporkan dalam laporan keuangan diasumsikan tidak melebihi nilai aset yang dapat dipulihkan melalui pemanfaatan atau penjualan aset tersebut. Nilai jual aset atau nilai pemanfaatan aset yang lebih rendah dari nilai tercatat menunjukkan bahwa aset tersebut nilainya telah turun, atau dalam kata lain aset tersebut mengalami penurunan daya untuk menghasilkan aliran masuk manfaat ekonomik di masa depan. Jika hal demikian terjadi, maka nilai tercatat aset harus diturunkan hingga sebesar nilai terpulihkannya (dicatat rugi penurunan nilai). Tujuan dari hal ini adalah agar nilai aset yang disajikan di laporan posisi keuangan tetap mencerminkan kewajaran sumber daya ekonomik yang dikuasai oleh entitas, sehingga informasi yang disajikan ini tidak menyesatkan (mislead) para pengguna laporan keuangan dalam melakukan pengambilan keputusan.
Definisi dan Ruang Lingkup Penurunan Nilai
Rugi penurunan nilai didefinisikan dalam PSAK 48 (revisi 2009) sebagai, “jumlah yang merupakan selisih lebih jumlah tercatat suatu aset atau unit penghasil kas atas jumlah terpulihkannya.” Aset dikelompokkan ke dalam unit penghasil kas jika aset tersebut tidak menghasilkan aliran kas secara independen. Jika keadaan berubah (pada umumnya kebalikan indikasi rugi penurunan nilai), rugi penurunan nilai untuk aset selain goodwill dapat dibalik (reversed). Tujuannya untuk mencerminkan peningkatan kembali daya dari aset.
Paragraf 2 dari PSAK 48 (revisi 2009) menjelaskan mengenai ruang lingkup pengaturan. Penurunan nilai diterapkan atas semua aset kecuali persediaan, aset kontrak konstruksi, aset imbalan kerja, aset keuangan dalam lingkup PSAK 55 (revisi 2006), properti investasi metode revaluasi, biaya tangguhan dan aset takberwujud dalam kontrak asuransi, serta aset tidak lancar dimiliki untuk dijual.

Indikasi Penurunan Nilai
Uji penurunan nilai dilakukan jika terdapat indikasi penurunan nilai. Berikut ini beberapa pertimbangan dalam menilai adanya indikasi penurunan nilai berdasarkan PSAK 48 (revisi 2009) paragraf 12 ,
Informasi dari sumber eksternal:

  1. Penurunan signifikan nilai pasar
  2. Perubahan negatif signifikan teknologi, pasar, ekonomi atau lingkup hukum
  3. Peningkatan suku bunga pasar atau tingkat imbalan pasar investasi
  4. Jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya.
  5. Informasi dari sumber internal
  6. Bukti keusangan atau kerusakan fisik aset.
  7. Perubahan signifikan atas penggunaan aset, penghentian aset atau restrukturisasi operasi, pelepasan aset, dan penilaian ulang umur manfaat aset dari tidak terbatas menjadi terbatas.
  8. Bukti internal bahwa kinerja ekonomi aset lebih buruk, atau akan lebih buruk, dari yang diharapkan.

Daftar indikasi penurunan nilai di atas hanya contoh dari beberapa indikasi. Entitas dapat menentukan indikasi lain terjadinya penurunan nilai. Selain disebutkan dalam PSAK 48 (revisi 2009), indikasi terjadinya penurunan nilai juga dinyatakan dalam PSAK 64. Perbedaannya dengan PSAK 48, indikasi dalam PSAK 64 dikhususkan untuk aset-aset dalam tahapan eksplorasi dan evaluasi. Berikut indikasi penurunan nilai yang dinyatakan dalam PSAK 64 (tidak terbatas pada daftar berikut) ,

  1. Hak eksplorasi di suatu wilayah telah atau akan kedaluarsa dan tidak diperbarui;
  2. Pengeluaran substantif untuk eksplorasi dan evaluasi di suatu wilayah tidak dianggarkan atau direncanakan;
  3. Tidak ditemukan sumber daya mineral yang memenuhi skala ekonomis dan entitas memutuskan untuk menghentikan aktivitas eksplorasi dan evaluasi;
  4. Meskipun pengembangan pada suatu wilayah tertentu sedang dalam proses pengerjaan, jumlah tercatat aset eksplorasi dan evaluasi tidak dapat terpenuhi seluruhnya dari keberhasilan pengembangan atau penjualan aset tersebut.
  5. Jika terdapat indikasi penurunan nilai seperti yang telah dijelaskan di atas, maka entitas harus melakukan uji penurunan nilai dengan cara membandingkan nilai tercatat aset dengan nilai terpulihkannya

Baca Juga